Sosialisme sebagai Alternatif Selengkapnya »

"/> Sosialisme sebagai Alternatif | Independent Movement

Sosialisme sebagai Alternatif

“Tidak ada sesuatu pun di alam yang terjadi kecuali dengan lompatan-lompatan. Tidak ada sesuatu pun yang manusiawi yang terjadi kecuali dengan lompatan-lompatan.” (Romein)

“Hidup ini sungguh penuh dengan kejutan yang menegangkan. Hidup ini pergi lebih jauh melampaui apa yang kita rencanakan. Dan kerjakan. Kita tidak hanya hidup dari pasar untung dan rugi. Kita hidup dari kepercayaan, harapan, dan cinta. Pendeknya dari apa yang tidak dapat kita jual dan beli.” (Franz Kamphaus)

Pada 1847, ada dua macam golongan yang dianggap sebagai orang-orang Sosialis. Pertama, ialah mereka yang menjadi penganut Sosialisme Awal: kaum Owenis di Inggris dan kaum Fourieris di Prancis. Dalam volume pertama History of Socialist Thought, G.D.H. Cole mencatat: kata ‘sosialis’ dipakai sejak dipropagandakan melalui Cooperative Megazine. Pemakainya berasal kalangan yang berkiblat pada pemikiran Robert Owen: perlu adanya sebuah mode koperasi sistem industri. Ia percaya bahwa produksi dan kesejahteraan umum cuma dapat ditingkatkan dengan peraturan kolektif.

Aturan itu diterapkan secara bersama dalam pabrik-pabrik dan bengkel-bengkel dengan berbasis koperasi. Hanya pandangan ini dibantah oleh Charles Fourier. Baginya, gagasan Robert Owen dapat menjerumuskan masyarakat dalam industrialisme. Daripada tersentral pada pabrik dan bengkel, dirinya bersepakat apabila koperasi dibangun mulai dari desa. Tujuannya untuk menumbuhkembangkan masyarakat hingga mekar sampai ke kota-kota. Walau keduanya memiliki pandangan sarat perbedaan. Hanya Bernard Crick dalam Sosialisme: Konsep dan Cara Berpikir Sosialis (2016), menjelaskan bahwa gagasan Owen dan Fourier berbeda tapi memiliki konotasi serupa:

“Sosialisme adalah sebuah sistem masyarakat yang ditemukan yang menekankan sosial sebagai lawan keegoan, kooperatif sebagai lawan kompetitif, sosiabilitas melawan pemenuhan-diri individu: kontrol-kontrol sosial yang ketat pada akumulasi dan pemakaian hak milik pribadi; dan baik persamaan ekonomi maupun setidaknya penghargaan-penghargaan menurut kebaikan (kebaikan dinilai secara sosial), atau (posisi menengah) penghargaan yang dinilai sesuai kebutuhan.”

Dengan konotasi seperti itulah sejak awal kemunculannya sosialisme dinilai Bernar Crick: sebagai sebuah reaksi minoritas untuk pelaksaan sebagian kecil dari etika kapitalis. Sosialisme awal soalnya mengupayakan pengembangan masyarakat dengan beragam kecenderungan yang agak elitis: mulai dari industrialisme, lembaga-lembaga kooperatif, hingga berkecenderung menempuh pengasingan diri atau kelompok.

Meski membawa gagasan tentang pentingnya koperasi dalam pabrik, bengkel, desa, dan kota. Tapi keduanya lebih suka membersamai kaum terpelajar ketimbang gerakan buruh. Walau begitu sejak kehadirannya Sosialisme bukan sebatas sebagai cita-cita, tapi juga transformasi hubungan-hubungan sosial secara bertahap. Perubahan itu diiringi dengan perkembangan dan pemilikan bersama terhadap alat-alat produksi. Makanya kemunculan Sosialisme bangkit dari kekejaman tatanan lama dan kontradiksi-kontradiksi dalam tubuh kapitalisme.

Lewat Teori Empat Gerakan dan Takdir Umum Umat Manusia (1808), Fourier membagi perjalanan masyarakat dalam 80.000 tahun terakhir ke dalam fase besar: dua-menaik dan dua-menurun. Fase menaik (asccendant) berciri kehidupan penuh harmoni yang mengikat manusia baik secara individual maupun komunal–inilah saat-saat di mana manusia dan binatang hidup berkawan karena kehidupan rimba masih polos dan sensual. Kala itu ikatan-ikatan afektif antar-manusia amat kuat dan kebal. Sehingga manusia bukan hanya akur dengan sesamanya, melainkan pula alam sekitarnya.

Tetapi ketika memasuki fase menurun semuanya kontan berubah menyeringai. Penyebabnya adalah ditemukannya metalurgi. Peradaban metalurgi bagi Fourier mengawali dua fase menurun yang selama ribuan tahun membuat kehidupan umat manusia jadi dekaden: penuh dengan penindasan, pelecehan, kerakusan, muslihat dan kemunafikan.Tatanan itu kini kita kenal bersama sebagai fase kapitalisme. Francis Fukuyama mengklaim kapitalisme sebagai bentuk akhir dari sejarah umat manusia. Tapi Fourier tidak bersepakat dengannya: baginya, kapitalisme hanyalah bentuk kulminasi dari fase menurun saja. Karena jika dipelajari dari kehidupan para leluhur primitif di era metalurgi, kapitalisme cumalah satu periode pendek dari perjalanan historis manusia.

Hanya gagasan Sosialisme Utopis Fourier tidak menjelaskan bagaimana caranya menghancurkan kapitalisme. Dia cuma menegaskan bahwa: tatanan ini akan berakhir dan harmoni akan kembali tegak dalam kehidupan umat manusia. Inilah mengapa pemikirannya dikenal sebagai sebuah utopia. Sehingga kelak dalam melawan kapitalisme, gagasan sosialis disempurnakan oleh Karl Marx dan Frederick Engels menjadi Sosialisme Ilmiah.

Bersama-sama, kedua pemuda itu bersepakat memproklamasikan permusuhan terhadap tatanan yang dikuasai kapital. Maka dua-duanya mencurahkan banyak waktu untuk belajar, membaca dan menuliskan semua temuan-temuan sosial. Sebagai sosok-sosok yang gandrung dengan ilmu pengetahuan—dalam Kongres Liga Komunis pada bulan November 1847—dua sahabat dimandatkan untuk mempersiapkan sebuah program perjuangan dalam melawan kapitalisme. Dari pemikiran keduanya kemudian hadirlah Manifesto Partai Komunis (1848). Dalih yang menjadi inti karya ini berasal dari Marx. Argumennya lugas:

“…bahwa dalam setiap zaman sejarah, cara produksi ekonomi dan cara pertukaran yang sedang berlaku dan organisasi kemasyarakatan yang mesti timbul darinya merupakan dasar yang di atasnya terbangun, dan yang hanya dari situ dapat diterangkan sejarah politik dan intelek zaman itu; bahwa oleh karena itu seluruh sejarah umat manusia (sejak lenyapnya masyarakat kesukuan primitif, yang memiliki tanah dan hak milik bersama) adalah sejarah perjuangan kelas, pertandingan antara kelas yang menghisap dengan yang dihisap, antara kelas yang memerintah dengan kelas yang ditindas; bahwa sejarah perjuangan kelas ini merupakan serangkaian evolusi yang di dalamnya, pada masa ini, telah tercapai suatu tingkat di mana kelas yang dihisap dan ditindas–proletariat–tidak dapat mencapai kebebasannya dari kekuasaan kelas yang menghisap dan memerinta–borjuasi–tanpa bersamaan dengan itu dan selama-lamanya membesakan masyarakat dari penghisapan, penindasan, perbedaan kelas, dan perjuangan kelas.”

Dengan corak permikiran seperti itu Frederick Engels kemudian mendeklarasi gagasan yang dibawakan Karl Marx sebagai Sosialisme Ilmiah (selanjutnya disebut Sosialisme saja). Sosialisme ini ditempeli kata ilmiah karena dirinya bukan sekedar ideologi, tapi lebih merupakan pengetahuan yang menyingkap fenomena-fenomena sejarah dan masyarakat secara radikal. Bagi Marx dan Engels, kemajuan yang dicapai umat manusia adalah perkembangan dari kekuatan-kekuatan produktif: industri, pertanisan, sains, dan teknik.

Tetapi itu bukanlah merupakan generalisasi kasar yang mereduksi segala persoalan ke dalam spektrum ekonomi saja. Karena Marx dan Engels juga memperhitungkan sepenuhnya fenomena-fenomena seperti seni, moralitas, hukum, politik, agama, karakter nasional, dan pelbagai perwujudan kesadaran manusia lainnya: Itulah mengapa dalam suratnya kepada J. Bloch pada 21 September 1890, Engels menjelaskannya begitu rupa:

“Menurut pandangan materialis terhadap sejarah, elemen penentu akhir dalam sejarah adalah produksi dan reproduksi dari kehidupan keseharian. Baik Marx maupun saya tidak pernah mengatakan lebih dari ini…. Situasi ekonomi adalah basis, tetapi berbagai unsur dalam superstruktur—bentuk-bentuk politik, dari perjuangan kelas dan hasil-hasilnya, dalam kata lain: konstitusi-konstitusi yang disusun oleh kelas yang menang dalam pertempuran, dsb, bentuk-bentuk peradilan, dan berbagai pemikiran yang timbuk dibenak para pelaku perjuangan kelas ini secara politik, teori-teori pilitik, yudisial, dan filosofis, pandangan-pandangan religius dan perkembangan mereka lebih lanjut menjadi sistem-sistem dogma; semua ini juga mempunyai pengaruh dalam jalannya perjuangan-perjuangan historis, dan dalam berbagai kasus merupakan faktor dominan dalam menentukan bentuk-bentuk perjuangan yang diambil.”

Melalui pemikiran sosialisnya, dalam Manifesto Partai Komunis (1848) Marx dan Engels memutuskan untuk mengambil jalan perjuangan kelas. Metode perlawanan ini sepenuhnya dipandu oleh pisau analisis Marxis: Dialektical Materialism (Diamat) dan Historical Materialism (Histomat). Melalui materialisme dialektis, ditemukan tiga dalih tajam dalam mendekati, memahami, dan mengubah realitas.

Pertama, ‘perubahan dalam kuantitas dapat menimbulkan perubahan dalam kualitas, dan vice versa‘. Kala itu materi menjadi sebuah peristiwa tapi pada taraf kuantitatif, sehingga pengintegrasian materi-materi dapat menetesekan sesuatu yang baru-baru. Tapi perubahan yang berlangsung secara kuantitatif tak bisa ditangkap panca indera. Misalnya, saat dipanaskan suhu air dapat berubah dari 0 derajat celcius (titik beku) menuju 100 derajat celcius (titik didih): di sini terjadi lompatan dialektis dalam alam kebendeaan. Dalil inilah yang juga digunakan dalam mendekati persoalan manusia. Bahwa kemajuan peradaban dan kemanusiaan tidak terjadi secara gradual, melainkan melalui lompatan-lompatan material. Dalam Diamat, lompatan itu dimaksudkan sebagai revolusi.

Kedua, ‘kesatuan dan pertentangan dari lawannya (hukum kontradiksi). Dalam Dialectika of Nature (1875) dan Anti-Duhring (1878), Engels mengurai bahwa pada realitas terdapat pertentangan-pertentangan. Tetapi di saat yang sama kontradiksi itu berbentuk sebuah kesatuan. Semisal, antara kutub positi dengan negatif dari baterai: di mana proton dan elektron saling berdiametral, namun membentuk kesatuan yang memberi daya, hidup, dan gerakan. Persis fenomena masyarakat sekarang: pertentangan antara borjuis dan proletar.

Ketiga, ‘negasi dari negasi’. Pengingkaran dari pengkiran ini berisaha menjelaskan bahwa realitas tidak dapat berhenti. Melainkan terus terjadi proses yang silih berganti: antara kemenjadian dan kehancuran. Keadaan ini terjadi secara spiral: dark tesis, antitesis, hingga sintesis (kembali jadi tesis). Bila tesis lemah karena kecamuk kontradiksi, maka akan segera diganti oleh antitesis untuk menghilangkan kontradiktif. Tetapi antitesis selalu saja ikut melemah hingga datanglah sintesis yang berusaha mencakup keduanya: tesis dan antitesis. Namun sintesis pun kemudian kembali menjadi tesis, dan begitu seterusnya.Negasi dari negasi yang mengandung perubahan kuantitas ke kualitas dan kontradiksi itulah yang berlangsung dalam masyarakat dan sejarah. Kesimpulan ini diperoleh Marx dan Engels setelah meneliti lama tentang proses perkembangan umat manusia. Darinya lahirlah Diamat hingga kemudian ikut menjadi peta bagi Histomat.

Dalam materialisme historis, faktor produksi ditempatkan sebagai perangkat yang paling dominan mempengaruhi kesadaran manusia. Maka analisis Histomat atas sejarah bertolak dari interperetasi kekuatan-kekuatan produksi dan hubungan-hubungan produksi. Melalui Manifesto Komunis Marx dan Engels membuat tesis: bahwa sistem kehidupan masyarakat berubah dari satu formasi sosial-ekonomi lama ke yang baru: perubahannya terjadi melalui lompatan-lompatan revolusioner.

Pertama, masyarakat komunal primitif: memakai alat kerja yang sifatnya amat sederhana. Tapi alat produksinya itu merupakan milik bersama. Hanya keadaan ini tak bertahan lama, karena ditemukannya metalurgi untuk memudahkan kerja. Maka kebutuhan untuk menghasilkan barang-barang pun meningkat, sehingga terciptalah surplus dan hubungan produksi yang menempatkan ketua gen sebagai kelas pengeksploitasi pertama dalam sejarah. Keadaan inilah yang bukan saja menjadi awal pembagian kerja dan terbelahnya kelas-kelas sosial masyarakat, tapi terutama kehidupan orang-orang mulai dibedakan antara miskin (budak) dan kaya (tuan).

Kedua, masyarakat perbudakan. Tercipta akibat hubungan produksi antara pemilik alat-alat produksi dengan tenaga kerja. Dalam kondisi ini pendapatan budak sangatlah rendah. Kehidupannya menderita. Sementara tuan budak dan agen penjual budak mendapat keuntungan berlimpah. Atas penindasan yang dirasakannya, budak kemudian sadar di mana posisi kelasnya. Pemberontakan terhadap tuan-tuan pemilik budak pun bergelora. Perlawanan itu melemahkan ekonomi tuan budak dan menguatkan perekonomian mereka-mereka yang menjual-belikan budak. Dengan kekuatan ekonominya mereka kemudian menjadikan tanah sebagai alat produksi kekayaannya.

Ketiga, masyarakat feodal–perhambaan. Bermula dari runtuhnya perbudakan, maka selanjutnya sistem sosio-ekonomi memasuki masa perhambaan: pemilikan alat produksi terpusat pada bangsawan, khususnya tanah. Kala itu buruh-buruh tani (petani miskin) menggarap lahan bukan untuk dirinya, melainkan tuan-tuan pemilik tanah. Hubungan produksi ini lama-lama mendorong munculkan progresivitas dalam kerja. Dari keadaan ekonomi inilah hamba-hamba dapat memenuhi kebutuhan hidup minimalnya. Sementara kaum perantara yang menjadi jembatan antara konsumen dan produsen dalam masyarakat feodal semakin kaya hingga menguasai perdagangan dan mendirikan pabrik-pabrik. Walhasil, embrio kapitalisme sejak itu mulai memancar dengan aroma menusuk: pekerja upahan bermunculan di mana-mana yang diikuti oleh menjamurnya pedagang.

Keempat, masyarakat kapitalis. Sistem feodal tak mampu membendung kelahiran kapitalisme. Hubungan produksinya didasarkan atas kepemilikan individu yang telah ditetaskan oleh kemajuan produksi dalam masyarakat feodal. Pemilik alat produksi terkenal sebagai kelas borjuasi: memperkerjakan buruh yang terpaksa menjual tenaganya karena ketidakberpemilikan alat produksi. Pekerja-pekerja ini disebut kelas proletariat. Sejak dipekerjakam di pabrik, mereka dieksploitasi begitu rupa. Bos-bos perusahaan hanya mementingkan laba ketimbang hak-hak pekerjanya. Maka pertentangan kelas makin membuncah. Dengan perjuangan kelas buruh kemudian, maka tatanan kapitalis berusaha dihancurkan dengan upaya membangun masyarakat sosialis-komunis.

Kelima, masyarakat sosialis-komunis. Hubungan produksinya disandarkan atas kepemilikan bersama: riuh akan kerja sama dan saling membantu tanpa soal rugi atau laba. Sistem ini dirancang supaya bisa memberikan kebebasan kepada setiap manusia tanpa penindasan dan penghisapan di antara sesamanya. Maka alat-alat produksi berasal dari olahan kebudayaan manusia yang lebih mulia. Hanya masyarakat ini tidak dapat muncul dengan sendirinya, melainkan melalui perjuangan dalam pertentangan kelas. Ketika Sosialisme telah diterima sebagai paham dominan, konsolidasi kekuatan kelas buruh membesar, dan pergarungan melawan kelas borjuasi mampu dimenangkan—maka tatanan kapitalis dapat digantikan. Kala itu umat manusia akan memasuki fase sosio-historis Komunisme. Dalam kehidupan masyarakat komunis, komunitaslah menjadi pengarah motor dan tiap pribadi-manusia jadi pengarah gerak sejarah.

Cita-cita dari komunitas sangat mulia: ingin mengembangkan segenap fakultas dalam diri manusia. Dalam Manifesto Partai Komunis (1848), Marx dan Engels memaparkannya:

“…sebagai ganti dari masyarakat borjuis lama, dengan struktur kelas-kelas dan antagonisme antar-kelasnya, muncullah masyarakat paguyuban, masyarakat di mana gerak perkembangan dari setiap individu menjadi prasyarat bagi gerak perkembangan seluruh masyarakat.”

Itulah mengapa dalam masyarakat Komunis, tak ada lagi kelas-kelas sosial. Karena tidak terdapag seorang pun yang diistimewakan apalagi dipuja-puji, bahkan dituhankan secara bebal. Setiap orang berhak mengembangkan perasaan, pikiran, dan kehendaknya dengan optimal. Kehidupan seperti inilah yang sangat ideal. Makanua kapitalisme haruslah sesegara mungkin dilawan, disingkirkan, dan dihancurkan.

Sudah muak rasanya menyimak manusia hang tidak lebih berharga daripada laba. Kondisi ini telah lama menempatkan orang-orang kecil, lemah, dan tak berdaya kubangan paling hina: (1) modus pembagian kerja secara mekanis telah mendehumanisasi makna bekerja yanh sesungguhnya. Sehingga pekerjaan tak pernah beringsut dari soal pemenuhan keuntungan untuk pemilak modal saja; (2) masifikasi hasil produksi dan pengutipan untung sebesar-besarnya telah menciptakan keberlimpahan benda yang harus dipeejual-beli. Ini kemudian mengokohkan kesadaran akan pentingnya komoditi.”

Sebagai counter atas kesadaran komoditas, maka kini waktunya kita membangun kesadaran kelas. Untuk itulah perlunya mempelajari Sosialisme. Bagi John Molineux: warisan-pemikiran Marx ‘bukan hanya merupakan teori tenyang perlawanan dan perjuangan kelas buruh melawan sistem kapitalis, tetapi juga, dan yang lebih penting adalah teori tentang kemenangannya’. Hanya sejarah tidak dapat diubah oleh aku, kamu, kami atau kalian secara sendiri-sendiri–melainkan kita: mesti bersama-sama memperjuangkannya. Antonina Yermakova & Valentine Ratnikov—dalam Kelas dan Perjuangan Kelas (2020)–pernah berkata:

“Sejarah tidak dibuat oleh individu-individu, tetapi pertama, dan terutama, oleh kelas-kelas [massa] yang mengondisikan kelas-kelas menciptakannya dalam usahanya mewujudkan kepentingan-kepentingannya masing-masing. Dalam kesimpangsiuran relasi-relasi sosialis yang carut-marut, bagaimana ruwetnya dan keleidoskop yang bertentangan mengenai pandangan-pandangan, teori-teori, standar-standar moral, selera-selera estetis, dan lain sebagainya, kita tidak boleh gagal melihat kepentingan-kepentingan sejati dari kelas-kelas yang berbeda….”

Edukasi dan Propaganda Sosialis oleh: PEMBEBASAN Kolektif Kota Mataram

(0)
Author: (0)

Aku berpikir, maka aku bergerilya. Aku memberontak, maka aku ada. Aku hidup, maka aku tiada.

TULISAN INI BISA DIBAGIKAN MELALUI:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *