Skripsi dan Dosen Cabul Selengkapnya »

"/> Skripsi dan Dosen Cabul | Independent Movement

Skripsi dan Dosen Cabul

Cerpenis: Comunne*

Mahasiswi cantik dengan bibirnya yang tipis. Dia menatap papan pengumuman kampus; teman-temanya rupanya jauh lebih cepat darinya, teman-teman kelasnya sudah selesai ujian skripsi semua. Ia menghitung waktu berapa lama ia mengerjakan tugas akhirnya, kini genap 6 tahun ia kuliah. Ada kisah heroik yang diisi selama 6 tahun. Ia memilih aktif di organisasi Islam radikal. Ia anti pacaran, anti kapitalisme, anti Nasionalisme yang tentu disebabkan karena kajian dan tafsiranya yang radikal terhadap hadist dan ayat suci.

Tapi kenapa ia tidak berhasil untuk urusan sepele semacam skripsi, tidak mungkin tuhan membenci mereka yang selalu memujinya, hingga visi hidupnya ialah mengemban dakwah penegakan daulah khilafah islamiyah, ia pun melangkah mencari tempat duduk yang nyaman, hingga dosenya pun menghubunginya, notifikasi SMS masuk di HP-nya, karakter dosenya memang angkuh butuh waktu 7-8 hari untuk sekedar membalas SMS Murid bimbinganya.

“Nanti malam ketemu di Restoran Gajah mada,” pesan singkat itu ia baca. Bagi dia yang dihantui oleh rasa bimbang dikarenakan, desakan dari orangtua agar cepat menyandang gelar sarjana. Ia pun mengiyakan, “ya pak,” jawabnya.

Malam kota yang gemerlapan yang serba sekuler, di mana agama dipisahkan dari aturan negara, semua serba bertentangan dengan syariat Islam. Ia menunggu dosen dari jam 8 malam. Di sekelilingnya, banyak yang berpacaran lengkap dengan pakaian ketat, pendek hingga rok mini. Ia mencaci dunia jahanam ini. Ia benci berada di tempat yang mirip neraka tetapi surga bagi mereka yang bernafsu iblis. Ia menelpon dosen yang berjanji tanpa menentukan waktu secara rinci, “mohon maaf pak, saya sudah menunggu bapak di restoran Gajah Mada.”

Dosen itupun membalas dengan singkat, “tunggu.” Menunggu dosen mengundang harapan agar cepat mengakhiri masa studi. Pukul 21.40 Wita ia melihat jamnya, kosnya akan segera tutup, namun pikiranya terganggu ketika dosen dengan memakai kacamata serta kemeja putih datang menghampirinya, “maaf lama menunggu.” Kemudian memanggil pelayan kemudian memesan minuman, sekaligus menanyakan pada gadis itu mau makan apa, tanpa menunggu jawaban dari mahasiswa itupun kemudian memesan makanan yang mahal, “ayo makan, coba lihat proposalnya.”

Ia berusaha menolak bukan karena ia kenyang–perut dan mulutnya bertentangan. Sambil meyakinkan dosen itu pun bilang nggak usah sungkan. Ia melihat gerak pensil dosen itu; banyak yang dicoret, pasti akan banyak yang harus diperbaiki. Ia pun membiarkan makanan itu dingin tidak tersentuh di meja, waktu berjalan melompat jauh lebih cepat rupanya jam 12 malam, dosen itu masih membaca, kemudian sesaat kemudian bilang “revisi semua yang saya coret”.

Ia memandangi proposal dan kebingungan lainnya bahwa malam hari tidak mungkin ada ojek. Kosnya pun pasti sudah lama tutup jam 10–untuk kost ukhti pasti keharusan. Kemudian ia berjalan keluar, dosen pergi ke kasir. Wanita cantik dengan pakaian syari’at itu pun berjalan kaki, HP-nya kehabisan baterai karena kelamaan menunggu dosen.

Di perjalanan sebuah mobil plat merah berhenti, rupanya itu dosen tadi, mengajak dengan santun naik ke dalam mobilnya. Sambil memberikan nasehat, “tidak baik jalan sendirian dan daerah sekitar itu rawan,” gadis itupun terpaksa naik ke dalam mobil itu. Mobil berjalan begitu lambat, ngantuk sangat tidak tertahankan apalagi ia adalah gadis desa yang tidak biasa naik mobil, biasanya karena alasan sepele, mabuk perjalanan.

Beberapa waktu kemudian bibir berkumis itu menyentuh bibir manis gadis cantik itu. Rupanya gadis itu tidak tahu bahwa mobil itu sengaja berhenti. Gadis itupun dengan lemahnya tidak sanggup untuk berteriak kencang. Dosen memaksa menarik-narik baju gadis cantik itu, ia sangat marah hingga menendang kemaluan dosen cabul itu, kemudia membuka pintu dan lari keluar.

Ia lari sambil menangis proposalnya tertinggal di mobil sicabul itu, menangis meratapi tentang kehidupan seperti binatang ini. Aszan subuh bersimbah air mata ia menangis. Selesai sholat seorang perempuan bilang kenapa kau menangis? Ia berusaha menutupi kisah tragis itu, rupanya masjid diisi oleh orang-orang baik dan taat. Perempuan itupun mengantarkan gadis itu pulang ke kosnya, sambil bilang “kau mahasiswa”.

Sesampai di kos, ia tidur, menyendiri, terasa asing, mengutuk laki-laki busuk itu, sambil meludah berkali-kali. Ke mana ia melangkah depresi, hingga teman baiknya mengetuk pintu kamar yang tidak dikunci. Kemudian melihat sahabatnya menangis, ia pun bersedih, kemudian mulai berani bertanya apa yang terjadi. Dengan suara terbata sambil mengis ia bilang “dosen cabul”.

Temannya berbeda dengan ia yang tergabung dalam organisasi Islam radikal. Sahabatnya justru tergabung dalam gerakan kiri radikal, marxisme-leninisme yang anti seksisme. Ia menghubungi kawan-kawanya dan menyampaikan ada isu USIR DOSEN CABUL DARI UNIVERSITAS. Mariati namanya, ia menghubungin rekan satu organisasi, lalu….

***Bersambung***

*Penulis cerita pendek bersambung ini adalah kamerad dari Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN) Kolektif Kota Mataram. Tulisannya dibuat berdasarkan program organisasi: menulis secara rutin guna melancarkan edukasi, agitasi dan propaganda.
(0)
Author: (0)

Aku berpikir, maka aku bergerilya. Aku memberontak, maka aku ada. Aku hidup, maka aku tiada.

TULISAN INI BISA DIBAGIKAN MELALUI:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *