Narasi PEMBEBASAN Selengkapnya »

"/> Narasi PEMBEBASAN | Independent Movement

Narasi PEMBEBASAN

Seperti apakah penilaian kalian terhadap kami? Apakah hanya sebatas pelabelan yang telah diberikan oleh (penguasa) negara terhadap kami selama ini, sehingga menuduh kami sebagai pengacau? Kalian adalah manusia, tentu tidak akan pernah lumpuh dalam ingatan, jikalau mampu untuk bijak dalam melihat keselarasan hidup di dunia ini.

Tuduhan dan kajian yang tidak berdasar pada keadaan yang sebenarnya, sehingga kebanyakan dari kalian memperlakukan dan memposisikan kami sebagai kaum yang laknat di hadapan ratusan juta umat manusia. Bukan hanya sekedar dentuman suara dan pikiran yang kami andalkan, tetapi juga hidup kami menjadi taruhan untuk memperjuangkan hak hidup orang-orang yang diambil paksa oleh kekuatan militer dan elit borjuis.

Itukah yang ingin kalian musuhi?

Itukah yang ingin kalian basmi?

Jika ada yang mengatakan bahwa kami adalah kaum-kaum yang laknat, pembohong, rusuh, saparatis dan lain-lain? Semua itu bisa dibuktikan dengan penderitaan yang pernah maupun yang sedang kalian rasakan saat ini.

Apapun bentuk pelabelan yang diberikan terhadap kami, tidak akan membuat kami berhenti menciptakan kebebasan yang sepenuhnya terhadap buruh, rakyat miskin, kaum perempuan dan bangsa-bangsa kecil yang masih ditindas. Kami akan terus buat bergejolak, sampai mereka mendapatkan kehidupan yang sepenuhnya layak.

Kalian manusia dan kami pun manusia, jangan hanya menilai kami dari penampilan luar. Tetapi lihatlah, bahwa kita semua hadir di dunia ini untuk melalui perjuangan hidup. Dan kami lahir dari keterpurukan jutaan orang miskin, lahir dari penderitaan jutaan buruh, lahir dari jeritan jutaan perempuan, lahir dari darah dan air mata bangsa-bangsa kecil yang dibunuh.

Kalian tidak seharusnya membedakan kami dengan yang lain, karena yang kalian nikmati itu terus membusuki kami, tak akan jadi masalah. Tetapi biarkanlah kami untuk terus tidak menghamba pada rasa ketakutan yang menindas, pada kekerasan yang terus merenggut nyawa. Meskipun itu harus mengorbankan tenaga dan hidup kami. Kami tahu dengan sangat sadar, bahwa kalian semuanya akan menyadari keresahan dan penderitaan yang sedang terjadi, pasti… pasti… tentu pasti akan mendorong kalian melawan ketidakadilan itu.

Buruh yang dirampas haknya lewat kerja paksa (tenaganya terus dikuras habis lewat jam kerja untuk menumpuk kekayaan para pengusaha) di dalam pabrik-pabrik. Rakyat miskin yang terus dibiarkan kelaparan (sehingga menjadi pemulung, pengamen dan pengemis, bahkan terlantar di negeri yang penuh sumber daya alam). Kaum perempuan yang terus diperjualbelikan layaknya seperti barang-dagangan di dalam rumah bordir, terus ditekan oleh berbagai kekerasan dan pelecehan. Bangsa-bangsa kecil yang ditekan ke dalam ketidaktahuan yang tidak mampu menolong mereka dari penderitaan dan pembunuhan. Mahasiswa yang ditekan pikirannya dengan mahalnya biaya pendidikan yang semakin mahal, dipenuhi oleh pelajaran-pelajaran yang membuat mereka menjadi buruh upah murah bagi industri milik orang asing. Buruh tani yang bekerja di atas tanah yang bukan milik mereka, sehingga suatu saat bisa saja tidak dibutuhkan tenaganya, karena kerja pertanian digantikan oleh mesin. Dan semua manusia yang menderita pasti akan membangkang, melawan kebijakan yang sudah tidak lagi berpihak pada mereka.

Kami meyakini, bahwa dunia ini selalu berubah bentuk untuk memberi jalan bagi kemenangan kami. Perubahan strata sosial tidak akan terwujud, ketika langkah dan cara berpikir belum dipersenjatai dengan teori-teori yang Revolusioner.

Medan Juang, 06 September 2021

Hormat,

PEMBEBASAN Kolektif Kota Yogyakarta

(0)
Author: (0)

Aku berpikir, maka aku bergerilya. Aku memberontak, maka aku ada. Aku hidup, maka aku tiada.

TULISAN INI BISA DIBAGIKAN MELALUI:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *