KEK Mandalika dan Rintihan Rakyat Tertindas Selengkapnya »

"/> KEK Mandalika dan Rintihan Rakyat Tertindas | Independent Movement

KEK Mandalika dan Rintihan Rakyat Tertindas

Penulis: Marxcel*

Mandalika, namamu menjadi sorotan, perhatian dan harapan bagi negara. Sekarang kamu menjadi Kawasan Ekonomi Khusus yang sangat diprioritaskan negara. Negara beserta aparat-aparatnya bersorak gembira, bahagia atas kehadiranmu. Jumat 12 November 2021 hari di mana kamu diresmikan oleh bapak Presiden Jokowi.

Aku melihat di sosial media yang terdiri dari Instagram, Facebook, Twitter, WhatsApp dan YouTube dibanjiri atas peresmianmu. Sekarang kamu menjadi Topik Trending dan menjadi pembicaraan rakyat di mana-mana. Tapi di balik itu, ada realita yang miris dan sangat memalukan yang belum tuntas sampai detik ini.

Sebagian rakyat Mandalika belum mendapatkan hak-haknya atas tanah mereka yang diambil. Krisis air menjadi ketakutan bagi masyarakat Mandalika. Di mana air yang tersedia serta bendungan yang ada di sekitar, diambil-alih menjadi prioritas untuk pemenuhan kebutuhan KEK Mandalika.

Selain itu ada PR besar negara yang belum terselesaikan sampai detik ini. Ada kasus-kasus besar belum terjawab Sampai detik ini kebenarannya. Ada kasus pelanggaran HAM dari dulu hingga sekarang belum diadili. 

Orang-orang yang menyuarakan kebenaran dibunuh atas dalih keamanan negara seperti Wiji Thukul, Munir, Marsinah dan aktivis HAM lainnya yang perlu mendapatkan keadilan. 

Ada perampasan lahan yang di Nusa Tenggara Barat dan seluruh Indonesia yang belum diadili. Tanah rakyat di rampas dan belum diadili oleh negara  sampai sekarang.

Di samping itu biaya pendidikan semakin hari semakin mahal. Kampus-kampus di Nusa Tenggara Barat dan seluruh Indonesia biayanya meroket setinggi langit. Kampus-kampus Pariwisata jadi incaran orang-orang dengan harapan peluang lapangan pekerjaan di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika serta sektor pariwisata lainnya.

Tapi harapan yang diharapkan tidak bisa di penuhi, karena kampus-kampus Pariwisata menerapkan biaya setinggi langit dibanding kampus-kampus lainnya. Di Nusa Tenggara Barat kampus Pariwisata masuk dalam kategori peringkat pertama termahal.

Kampus-kampus yang ada terus di Komersialisasi dan Privatisasi. Kampus menjadi ladang bisnis.

Inilah yang membuat saya tidak merasa bangga dengan peresmian KEK Mandalika. Di balik peresmiannya ada realita yang miris, yang belum terselesaikan.

Pertanyaannya: apakah negara serius menangani segala kasus dan persoalan ini?

Apakah negara tidak mampu menangani kasus HAM, perampasan lahan dan memberikan pendidikan yang gratis untuk rakyatnya?

Ketika rakyat menyuarakan kebenaran, meminta keadilan seringkali mereka direpresi dan diintimidasi oleh militer. Suara-suara rakyat yang merintih meminta keadilan tidak didengarkan apalagi direalisasikan. Negara tidak benar-benar mengabdi kepada rakyatnya, tapi negara mengabdi dan tunduk kepada Kapitalisme.

Atas nama rakyat miskin dan tertindas; salam Pembebasan Nasional!

* Penulis adalah kamerad dari Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN) Kolektif Kota Mataram. Tulisan ini dibuat berdasarkan program organisasi: Edukasi, Agitasi dan Propaganda.
(0)
Author: (0)

Aku berpikir, maka aku bergerilya. Aku memberontak, maka aku ada. Aku hidup, maka aku tiada.

TULISAN INI BISA DIBAGIKAN MELALUI:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *