Kaum Muda! Lawan Kapitalisme, Fasisme dan Seksisme Selengkapnya »

"/> Kaum Muda! Lawan Kapitalisme, Fasisme dan Seksisme | Independent Movement

Kaum Muda! Lawan Kapitalisme, Fasisme dan Seksisme

“Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, maka matilah sebuah bangsa…. Keadilan sosial dan kemanusiaan: itulah esensi ideologi pemuda. Apakah pemuda akan menang? Semua terletak pada keberanian dan kemauan mereka sendiri.” (Pramoedya Ananta Toer)

Sederet catatan telah merekam bagaimana perlawanan dikobarkan kaum muda sepanjang jalan kesejarahan. Sosok mereka selalu dilukiskan melalui aneka kisah pembangkangan: pengguling rezim, pendobrak tatanan dan pelopor perubahan. Sekarang: dalam momentum International Student Day (ISD) 2021, perjuangan pemuda-pemudi pembangkang itu niscaya direfleksikan. Lewat rekaman sejarah kita diberitahu kalau peringatan ISD pertama kali digelar di London pada 17 November 1941. Dahulu: Dewan Pelajar Mahasiswa Internasional menetapkan tanggal itu bukan sekedar sebagai hari dikenangnya 9 pimpinan mahasiswa yang dihukum mati tepat 17 November 1939 silam; tapi juga menjadi monumen pemberontakan angkatan muda, pelajar dan mahasiswa terhadap sistem kapitalisme, kekuasaan fasis dan kolonialis. 

Hari-hari ini kisah perjuangan merekalah yang ingin kita kenang. Kisah mereka mengajarkan bukan hanya tentang pentingnya mempertahankan kebebasan, tapi lebih-lebih berjuang menentang penjajahan dan aneka bentuk penindasan. Itulah yang diberi tauladan oleh angkatan muda, pelajar dan mahasiswa di masa lalu. Ketika Nazi Jerman mulai menginvansi Cekoslovakia dengan beribu-ribu pasukan militernya, maka pemuda-pemudi tidak bisa menerimanya begitu saja. Mereka mengerti kalau kahadiran fasisme Hitler merupakan ancaman nyata bagi demokrasi dan kesejahteraan penduduk negerinya. Sebab mereka tahu: sudah banyak negeri yang terhina setelah diduduki Hitler dan tentaranya. Penderitaan rakyat Sungai Rhein (1934) dan Austria (1938) adalah buktinya. Bukti bagaimana kekuatan fasisme bukan hanya melakukan pendudukan, melainkan pula pembunuhan dan perbudakan manusia untuk melayani kapitalisme.

Pada Pemilu Jerman 1932, kebangkitan Nazi memang tidak bisa dilepaskan dari bantuan pemodal. Dengan modal kaum kapitalis yang keberadaannya terancam oleh krisis, maka rezim Hitler melenggang sebagai penguasa paling banal. Kelas borjuasi mendanai gerakannya karena dianggap sebagai kekuatan yang dapat menyelamatkannya dalam krisis kapitalisme dan menolak terjadinya revolusi proletar. Melalui sokongan dana dari Hugenberg dan konco-konconya, Hitler memperoleh anggaran berlimpah. Pemimpin fasis ini kemudian menggencarkan propaganda, memperluas jaringan organisasi, hingga melipatgandakan regu tentara pribadi untuk meneror buruh. Dengan peran seperti inilah kekuatan fasis menampilkan dirinya seperti yang dijelaskan Leon Trostky:

“Melalui agen kelompok fasis, kapitalisme menggerakan massa dari kelompok borjuis kecil dan kelompok lumpenproletariat (sekelompok masyarakat yang menderita karena kekuasaan kapital finansial) yang sudah terdekllasifikasi dan terdemoralisasi. Kelompok borjuis menuntut tugas yang tak tanggung-tanggung kepada kelompok fasis….”

Setelah berhasil mengokohkan takhtanya di seluruh negeri asalnya, maka Hitler semakin berkewajiban melayani kepentingan kapitalis dengan memperluas spektrum kekuasaannya. Lebih-lebih krisis kapitalisme hanya dapat mereka obati dengan perluasan wilayah produksi hingga terus-menerus memproduksi komoditas dan pasokan tenaga kerja sampai ke wilayah-wilayah lainnya. Membawa misi inilah mengapa Nazi tidak saja menundukkan Sungai Rhein (1934) dan Austria (1938), tapi juga mulai menjajah Cekoslowakia (1939). Pada 28 Oktober 1939, pelajar dan mahasiswa Ceko kemudian menjadikan peringatan hari kemerdekaan negerinya sebagai momentum dilancarkan perlawanan terhadap fasisme. Para pejabat Nazi di Protektorat Bohemia dan Moravia kontan merespon gerakan kaum muda dengan pegerahan pasukan dan penggunaan kekerasan berlebih. Wallhasil: mahasiswa-mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Charles, Serikat Nasional Pemuda Sokol, dan buruh-buruh muda yang melancarkan protes digulung dengan represi begitu rupa, hingga banyak di antara mereka mendera luka-luka bahkan sampai meninggal dunia.

Meski teror, intimidasi, pelecehan, penganiayaan, penangkapan, penahanan, dan pembunuhan mewarnai upaya pendudukan Nazi, tetapi perlawanan kaum muda tak pernah menyerah. Pada 11 November kembali mereka lancakan protes dengan jumlah yang massa berlimpah. Penembakan yang menewaskan Jan Opletal—salah seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Charles—di hari itu kemudian semakin membersarkan gelora perlawanan mereka. Ketika 15 November penguburan jenazah dilakukan maka solidaritas anti-fasisme semakin membesar hingga menyulap upacara pemakaman menjadi lautan aksi massa. Dengan meningkatnya gelombang insureksi, maka 17 November kaum muda mengonsolidasikan gerakannya dengan mengadakan pertemuan di Praha.

Tujuan bertemunya mereka tak sebatas membahas pentingnya persatuan kaum muda sedunia, tapi lebih-lebih membicarakan strategi penyelesaian permasalahan-permasalahan pendidikan, diskiriminasi ras, kemiskinan-ketimpangan penduduk global, hingga penghentian perlombaan senjata dan perang dunia. Hanya kekuatan fasis merespon pertemuan mereka bukan sekedar dengan melakukan penyerbuan dan penutupan sekolah dan kampus-kampus di Cekoslowakia, tapi juga melakukan penangkapan 1.200 pelajar dan mahasiswa untuk dimasukan di kamp konsentrasi secara paksa. Dalam peristiwa ini juga Nazi secara brutal menjadikan 9 orang pimpinan mahasiswa sebagai sasaran hukuman mati: Josef Matoušek, Jaroslav Klíma, Jan Weinert, Josef Adamec, Jan Černý, Marek Frauwirt, Bedřich Koukala, Václav Šafránek, dan František Skorkovský. Pada hari itu kesembilannya kontan ditembak mati tanpa mendapat kesempatan membela diri di muka peradilan.

Kini, pada 17 November 2021, Hari Pelajar Mahasiswa Internasional digelar untuk memperingati itu semua. Tetapi bukan mengenang kematian apalagi menokohkan para martir, melainkan meneguhkan kebencian kaum muda terhadap kekuasaan modal, fasis, kolonialis, dan segala bentuk penindasan lainnya. Itulah mengapa dalam ISD 2021 kami mengangkat tema ‘Kaum Muda! Lawan Kapitalisme, Fasisme dan Seksisme’. Hari ini (17/11), peringatannya dipancang melalui mimbar bebas yang mengambil lokasi di jalanan depan Arena Budaya Unram. Kecuali musuh-musuh rakyat, kegiatan tersebut terbuka untuk semua kalian: kami mengundang kalian buat mengumandangkan protes baik berbentuk luapan orasi maupun lantunan puisi-puisi perlawanan.

Hadirilah dan nyatakanlah keresahan kalian. Mana mungkin kamu tidak resah hidup di tengah situasi seperti sekarang. Memang eksploitasi dan kekerasan yang kita rasakan tidak setingkat dengan penderitaan angkatan-angkatan muda Cekoslowakia di bawah pendudukan Nazi Jerman. Tapi kami yakin: dalam ukuran tertentu kalian pasti muak, benci dan marah atas penghisapan dan kebrutalan yang sedang berlangsung. Lebih-lebih terhadap kekuatan modal yang telah lama menggerogoti dunia pendidikan kita. Sejak pertengahan 1990-an, hegemoni kapital yang mengambil bentuk liberalisasi pendidikan tak sebatas mendorong membludaknya jumlah perguruan tinggi dan mahasiswa. Tetapi membawa-serta kemerosotan begitu rupa: mengotonomkan institusi pendidikan, menanamkan logika persaingan, hingga menanggalkan peran negara dari pembiayaan pendidikan. Itulah mengapa dalam dunia pendidikan kita bukan saja menyaksikan parodi pembangunan yang seiring-sejalan dengan mahalnya ongkos kuliah, tapi juga sistem kerja outsourcing serta honorer yang upah dan jaminan kerjanya jauh dari layak terus diberlakukan. Makanya setiap tahun banyak sekali kaum muda yang sukar mengecap jenjang perkuliahan dan terjadi penumpukan satpam maupun dosen yang diupah tidak sesuai upah minimum bahkan tak diberi jaminan sosial berkait tunjangan hari tua, kecelakaan kerja dan kesehatan. 

Dalam keadaan inilah pendidikan tak diorientasikan untuk mencerahkan dan membebaskan peserta didik melainkan untuk mengejar profit semata. Makanya pembelajaran yang dilakukan kemudian jusrtu menampilkan penghisapan, diam-diam membodohkan, dan terus memperbudak peserta didiknya. Bukankah kapasitas tenaga pengajar yang tidak tertunjang, waktu kuliah yang padat, serta penerapan SKS yang menggila telah memperlihatkan bagaimana mahasiswa hanya ditempatkan sebagai obyek eksploitasi dan perlakuan sewenang-wenang birokrasi? Sejak menginjakkan kaki di kampus ini tidakkah kamu mengerti kalau birokrasi kampus memanipulasi kesadaranmu dan membatasi kebebasanmu dalam berekspresi dengan cara menuntutmu wisuda secepat kilat sekaligus mendorongmu berlomba-lomba mendapatkan IPK tinggi dan menjadi mahasiswa pemilik segudang prestasi?

Jika saja kalian sudah terjerambab dalam ajaran naif yang disuntikan birokrasi maka tuntutan-tuntutan itu akan kalian anggap sebagai lumrah, apalagi jika disandingkan dengan mahalnya ongkos pendidikan: maka pembatasan-pembatasan yang diterapkan dipikirkan sebagai sesuatu yang sarat kerasionalan. Dalam kondisi inilah imajinasi, cita-cita, serta daya juangmu sebagai kaum muda dipangkas untuk meniru dan menggugui cara pandang kelompok dominan. Ingatlah kembali bagaimana berlangsungnya masa ospekmu: tidakkah kamu mengerti bahwa istilah senior kau sematkan kepada mahasiswa angkatan lama merupakan panggilan yang secara subtil didorong oleh birokrasi? Birokrasi menyeret pandangan mahasiswa-mahasiswi angkatan baru yang di-ospek untuk menghadapi mahasiswa-mahasiswi angkatan lama sebagai seniornya lewat manipulasi tanda: mereka sengaja memilih panitia ospek dari gerombolan mahasiswa berpestasi dan penurut untuk ditampilkan di hadapan kalian sebagai prototip manusia dengan citra sempurna.

Dalam kondisi itulah wacana dan aksi kalian juga berusaha diseragamkan. Bahwa menjadi mahasiswa itu harus mengikuti sikap dan capaian orang-orang yang ditampilkan barusan: mudah diperintah, punya hubungan baik dengan birokrasi, dan beroleh jabatan-jabatan strategis dalam Lembaga internal kemahasiswaan. Jatuh pada keyakinan naif inilah kalian akan menjadi spesies-spesies yang mmudah dikontrol dan diawasi dengan beragam program-program yang diberikan atau mesti mendapat persetujuan birokrasi. Dampak paling mengerikan dari proses ini membuat kalian terbirokratisasi, terisolasi, dan sukar mendirikan atau mendukung kegiatan-kegiatan ideologis dan gerakan-gerakan progresif-revolusioner-radikal. Inilah mengapa aktivitas kalian kemudian sangat mengkhawatirkan: memisahkan diri dari persoalan-persoalan rakyat kebanyakan.

Kini pertanyaannya: mengapa kalian tak berpikir dan merasa semua itu sebagai suatu masalah? Apa yang membuatmu menganggap kalau cara pandang yang disemai birokrasi mencerahkan dan membebaskanmu? Bukankah liberalisasi pendidikan yang mengharuskan kampus melakukan penyeragaman pandangan dan kontrol serta pegawasan terhadap aktivitas kita merupakan salah satu karakteristik dari fasisme?

Bagi Clara Zetkin: pemujaan terhadap nasionalisme sempit, penggunaan gerombolan bersenjata. kecenderungan rasialistik dan pengabinghitaman pihak lain menjadi inti dari fasisme. Sekarang kami kembali bertanya: tidakkah hari-hari ini kalian melihat kampus menyembulkan gelagat-gelagat itu? Kami yakin kalian pasti pernah membaca berita bahwa sudah banyak lembaga pendidikan yang memberi tempat berlangsungnya adegan fasistik dalam lingkungannya. Ada kampus yang melarang pemutan film Senyap dan Pulau Buru Tanah Air Beta dengan tuduhan PKI dan pengerahan ormas reaksioner. Ada lagi kampus yang membubarpaksakan kegiatan lapak baca dan diskusi tentang Papua dengan melibatkan intel polisi dan tentara. Ada pula kampus yang mengancam, menskorsing, hingga men-DO mahasiswanya hanya karena bersolidaritas untuk Bangsa West Papua.

Hanya praktik fasistik dalam kampus tidak saja bergulir melalui Kerjasama dengan ormas reaksioner dan aparat-aparat fasis, tapi lebih-lebih menampak melalui pandagan-pandangan rasialistik birokratik. Di Unram, misalnya: kawan kami Nyamuk, beberapa kali pernah menceritakan bagaimana perlakuan dosen dan birokrasi terhadapnya. Dalam seabrek matakuliah dirinya tidak diberi kesempatan bahkan disangkal apabila membicarakan persoalan HAM dan Demokrasi di Papua. Pada gerakan-gerakan yang dilakukannya di kampus pula dia kerap kali dibatasi untuk mengutarakan penindasan yang berlangsung terhadap bangsanya.

Di kampus, perlakuan rasial tidak saja disasarkan pada kaum muda asli Papua tapi juga perempuan. Perempuan di banyak lembaga pendidikan menempati posisi yang paling rawan mendapatkan perlakuan rasialistik secara gender dan seksual (seksisme)—dari survei yang dilakukan Kemendikbud Ristek (2020): 77 persen dosen menyatakan pelecehan dan kekerasan seksual pernah berlangsung dalam lingkungan institusi pendidikannya, tapi sama sekali tidak dilaporkannya. Sementara dalam penyebaran testimoni yang dilakukan Tirto, Jakarta Post, dan VICE Indonesia sepanjang 13 Februari-28 Maret 2019, terkumpul 207 testimoni yang datang dari 27 penyintas dari 79 perguruan tinggi se-Indonesia—129 pernah dilecehkan, 30 diintimidasi secara seksual, dan 13 di antaranya diperkosa. Sementara para pelakunya beragam rupanya: mulai dari sesama mahasiswa, dosen, staf, pastor, dokter klinik kampus, hingga warga di tempat KKN segala.

Birokrasi kampus hari-hari ini memang begitu fasis terhadap bangsa tertindas dan perempuan. Bangunan praktik fasistiknya menampak melalui pelbagai perlakuan rasis terhadap mahasiswa Papua dan seksis kepada mahasiswa perempuan. Dalam setiap kasus yang terjadi para birokrat mungkin berhasil mengungkap siapa korbannya, tapi gagal bahkan tidak berani mencari, menemukan, dan memberi sanksi terhadap pelakunya. Sekarang, pada momentum ISD 2021, kami mengajak kalian menyuarakan itu semua. Inilah mengapa kepada kalian diserukan: ‘Kaum Muda! Lawan Kapitalisme, Fasisme, dan Seksisme’.

Kalian mesti mengerti bahwa kapitalisme identik dengan penghisapan dan kekerasan. Bahkan fasisme—rasisme dan seksime—juga merupakan praktik keji yang diturunkan kapitalisme. Merujuk pada tradisi Marxis, kami menyebut pemikiran dan perbuatan barbar ini sebagai ‘kekerasan alienatif’ dari kapitalisme yang mempunyai dua makna: subyektif dan obyektif. Pertama, kekerasan alienatif subyektif: berhubungan dengan keadaan psikologis dan mengacu pada situasi di mana individu merasa terasing dengan dirinya, komunitasnya atau kebudayaannya. Kedua, kekerasan alienatif obyektif: fenomena sosial di mana individu tercerabut haknya untuk menentukan nasibnya sendiri—dibatasi atau dirampas hak-haknya atau kesempatannya buat berperan aktif dalam pembuatan keputusan tentang karakter dan orientasi kehidupan profesional serta sosialnya. Singkatnya: kekerasan alienatif merupakan pencerabutan hak-hak individu yang berkait dengan perkembangan emosional, budaya atau intelektualnya.

“Masyarakat yang semakin tenggelam dalam cengkeraman sistem kapitalis akan mengalami kemunduran dalam memproduksi kebutuhan-kebutuhan hidup yang mendasar, dan akan melahirkan generasi yang mudah frustasi, serta mudah terlibat dalam berbagai bentuk kejahatan. Kondisi generasi yang sudah rusak ini, dapat kita lihat dari berbagai aktivitas kejahatan yang diberitakan oleh berbagai media massa setiap hari. Manusia yang hidup dalam sistem masyarakat seperti ini adalah manusia yang selalu tidak puas, merasa kesepian, dan merasa terasing dengan dirinya sendiri, merasa terasing dengan sesamanya, merasa terasing dengan aktivitasnya sendiri. Dengan kata lain, manusia, di bawah cengkraman kapitalisme, adalah manusia yang terasing secara total.” (Teori Marxis tentang Keterasingan)

Pernyataan Sikap

Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN) Kolektif Kota Mataram

“Kaum Muda! Lawan Kapitalisme, Fasisme dan Seksisme

1. Selesaikan seluruh kasus pelanggaran HAM Negara Indonesia terhadap Rakyat-Bangsa Indonesia dan Rakyat-Bangsa West Papua di masa lalu sampai sekarang.

2. Tarik TNI/Polri Organik dan Non-Organik dari tanah Papua sebagai sarat demokratik.

3. Bebaskan Victor Yeimo.

4. Hentikan kriminalisasi gerakan rakyat.

5. Mengutuk tindakan DPRD NTB Dan Gubernur NTB yang anti-kritik.

6. Hentikan teror, intimidasi terhadap mahasiswa Papua dan Solidaritas untuk Bangsa West Papua.

7. Tolak Otsus Jilid II dan DOB yang dilancarkan secara tidak demokratis di masa pandemi.

8. Gratiskan seluruh test Covid-19 (Rapid Test, Swab, Antigen, dll.).

9. Stop somasi terhadap Haris Azhar oleh Luhut Binsar Panjaitan.

10. Stop intimidasi terhadap LBH Bali.

11. Segera jamin kebebasan akademik di NTB dari rasisme birokrasi dan militerisme TNI Polri.

12. Hentikan penggusuran dan perampasan tanah petani dan masyarakat adat.

13. Berikan jaminan hidup layak bagi korban penggusuran KEK Mandalika oleh perusahan ITDC.

14. Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri bagi Bangsa West Papua sebagai Solusi Demokratis.

15. Cabut UU Omnibus Law Cipta Kerja dan Sahkan RUU PKS serta RUU PRT.

16. Mendukung penuh Permendikbudristek No. 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.

17. Hentikan rasisme terhadap mahasiswa Papua di seluruh universitas dan sekolah yang ada di Indonesia dan Papua.

18. Sita harta elit politik yang menjadi koruptor serta seluruh kekayaan pengusaha nakal untuk kepentingan rakyat miskin.

19. Lawan senioritas dalam dunia pendidikan dan bubarkan Menwa di seluruh kampus di Indonesia.

20. Hentikan pemberian jabatan kenegaraan terhadap pensiunan TNI-Polri.

Medan Juang, 17 November 2021

Atas Nama Kaum Tertindas, Terhisap dan Miskin; Panjang Umur Perlawanan,

PEMBEBASAN Kolektif Kota Mataram

(0)
Author: (0)

Aku berpikir, maka aku bergerilya. Aku memberontak, maka aku ada. Aku hidup, maka aku tiada.

TULISAN INI BISA DIBAGIKAN MELALUI:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *