Eksistensi Tuhan dalam Narasi Modern Selengkapnya »

"/> Eksistensi Tuhan dalam Narasi Modern | Independent Movement

Eksistensi Tuhan dalam Narasi Modern

Aspek yang sering melekat dalam tradisi-tradisi epistemologi adalah bagaimanakah manusia menyingkap sebuah kebenaran dan keresahan-keresahan yang terjadi pada manusia modern dalam menyingkapi kebenaran itu sendiri.

Sebagaimana dalam perenungan intelektual manusia sering mendapati tentang konsep keraguan terhadap kebenaran, yang dimana manusia pada saat ini sering mempertanyakan tentang eksistensi kebenaran itu dan mungkinkah manusia mencapai hal yang benar itu?

Ada beberapa filsuf atau pemikir yang kemudian mencoba megartikan kata kebenaran itu sendiri, menurut kaum platonik kebenaran ialah “kesesuawaian ide dengan realitas” yanga dimana kemudian apa yang dipikirkan oleh manusia harus sesuai dengan realitas, sedangkan menurut Prof. Nurcholisd madjid, kebenaran adalah “awal dan akhir segala sesuatu

Hemat penulis, pandangan di atas belum bisa diterima oleh sebagian kalangan, yang dimana dari kedua pendapat di atas masih bersifat relatif kebenaranya, karena kebenaran haruslah sesuatu yang mutlak dan tidaklah bersifat relatif/sementara.

kita ketahui bersama, manusia pada saat sekarang banyak yang masih merasakan ragu, dan perlu kita ketahui apakah keraguan itu sesuatu yang melekat pada manusia? Ataukah memang keraguan itu ialah suatu keharusan yang harus di alami oleh manusia?. terkadang manusia selalu mempertanyakan soal keraguannya sedangkan mereka tidak mampu merasionalisasikan apa sebenarnya itu ragu, bagaimana itu ragu, bagaimana ragu itu hadir, dan kenapa manusia harus ragu?

Mari kita lihat, kenapa manusia sering mepertanyakan dan mencari kebenaran dan selalu merasa ragu terhadap kebenaran itu, manusia pada dasarnya adalah mahluk yang berkepercayaan dan tidak ada satu manusia pun yang tidak berkepercayaan, contoh kongkritnya terlepas bagaimana manusia dalam konsep kepercayaannya, tapi satu yang perlu manusia ingat, hidup tanpa percaya adalah sesuatu yang mustahil dan bisa jadi orang saling membunuh, orang saling menyalahkan satu sama lainnya disebabkan sandaran kepercayaan tersebut.

Ada beberapa kelompok yang kemudian mengklaim dirinya sebagai atheis, yakni orang yang menolak tuhan sebagai entitas yang menciptakan segala sesuatu, tuhan bukalah sesuatu yg ritus bagi mereka lalu mengkalaim eksistensi yang rill dan objektif hanyalah kehidupan-kehidupan yang mereka jalani (pandangan kaum materialisme).

Kepercayaan yang mengekang kehidupan manusia atau memenjarakan kemerdekaan (fitrahnya) niscaya akan menjadikan manusia itu sendiri jauh dari peradabannya yang menjadikannya terisolasi ruang dialektis rasional, konsekuensi logis ketika manusia menolak untuk percaya atau menolak untuk menemukan hakikat kebenaran tunggal (Tuhan) maka pada saat bersamaan ia menolak peradaban. menolak peradaban berarti menolak kebenaran dan satu-satu jalan untuk mencapai suatu peradaban manusia itu sendiri maka ia mesti berpegang teguh pada hal yang benar. tentu hal yg benar lagi pasti adalah Tuhan.

Manusia ketika kemudian di hadapakan dalam keadaan panik seringkali manusia kehilangan jejak, yang kemudian dihadapakan pada masalah secara harga mati, dalam artian manusia tidak dapat lagi memikirkan sesuatu yang dapat dijadikanya sebagia tempat sandarannya lagi, dalam arti lain manusia tidak lagi bisa menggunakan akalnya untuk memikirkan sesuatu untuk di jadikan sandaran(pure akal) dan mengharuskan manusia kembali pada konsep laa ilaaha illa-Allah, memang terkadang disini manusia meras a dilemanya, yang telah tertampak kenyataanya, dan salah satu problem ialah, terlalu banyaknya tuhan.

Dalam Islam, ketika kemudian kita menelaah argumentasi² Al-qur’an tentang bagaimana menyinggung orang-orang yang pendirian moral terhadap keyakinan adanya Tuhan, probelemnya bukan bagaimana kita membuat manusia percaya terhadap Tuhan, tapi bagaiman kita membuat revolusi atau perubahan-perubahan, pembebasan dari percaya kepada terlalu banyak tuhan. memang ada satu tema dalam Al-qur’an, yang disebut atheis tapi itu minim. hidup sebagai Atheis adalah sesuatu hal yang mustahil ada, justeru yang paling banyak dialami oleh manusia ialah politeisme. yang menjadi problem pertama manusia ialah bukan ateisme melainkan politeisme.

Oleh sebap itulah konsep-konsep yang terdapat dalam Al-qur’an dan tercermin dalam dalil laa ilaaha illa-Allah, ialah usaha dan ajaran dalam meruntuhkan dan merobohkan politeisme.

Catatan penting yang sering dibahasakan oleh cendikiawan muslim modern yakni Prof. Nurcholish Madjid “bebaskan dirimu dan belengu-belengu yang menjerat dirimu sendiri” artinya apa dimana kepercayaan yang mengikis tata nilai-nilai kemanusiaannya sendiri.

Mungkinkah nilai modernitas mengubah pola keberTuhanan kita? apakah nilai-nilai pada dirinya tidak akan pernah berubah meskipun ruang dan waktu selalu bergantian dari cara bertuhan orang-orang terdahulu sebelum kita ada, ataukah eksistensi nilai bertuhan kita tidak akan mungkin sama bagi para pembawa risalah (Nabi) dan generasi pertama yang menjadi pengikut risalah.

Mari kita telaah dalam sejarah seperti yang dimaksud oleh prof. Nurcholish Madjid “Islam itu agama yang satu rumpun (millati ibrahim) dengan agama Yahudi dan Nasrani yang disebut agama hanif (tunduk, patuh, pasrah, berserah diri)”, dalam artian kita masih mewarisi ajaranya seperti dalam pengamalan spritual shalat yaitu: Inni Wajjahtu wajhia lillàdzi Fatharassamawati wal ardha, Hanifam muslima wama ana minal musyrikin.

Artinya apa?

Suatu pernyataan Ibrahim setelah mengunakan eksperimennya” dalam mencari Tuhan. Itu dalam aI-Qur’an yaitu ketika Ibrahim melihat bintang itu hilang, dia bilang, ah, tidak mungkin Tuhan kok tenggelam, ini bukan Tuhan.. Setelah melihat bulan, kemudian mendapatkan matahari itu lebih besar. Dia pun bilang inilah Tuhan. Pokoknya setelah eksperimen melalui bintang, bulan, matahari, yaitu gejala-gejala aIam.

Tapi dalam hal ini, masalahnya tentang suatu bentuk pembebasan, yang dimana manusia pada awalnya memiliki mitologi dalam bahasa lainya kecendrungan, cendrung untuk menjadikan apa saja yang memenuhi syarat sebaigai misteri/ sebagai tuhan; sesuatu yang mengandung misteri, sesuatu yang mengandung kehebatan, sesuatu yang mengandung rasa ingin tahu.

Kalau sebuah gunung yang seringkali meletus tiap tahunya yang membawa bencana yang tidak bisa dijelaskan oleh orang, maka mereka menganggapnya sebagai misteri dan menyembahnya. Gunung itu mengandung sebuah kekuatan misterius, yang setiap kali meletus akan menghancurkan sekian banyak orang, sawah ladang dan sebagainya. Oleh karena itu pendekatan kita kepada gunung itu mengarah kepada pendekatan keagamaan; disembah. Nah, itulah contoh mitologi yang menyeret kita. Inilah akar dari kata syirik yang sebenarnya.

Penulis: Agus Salim (Pegiat Jaringan Aktivis Filsafat Islam/Jakfi)

(0)
Author: (0)

Aku berpikir, maka aku bergerilya. Aku memberontak, maka aku ada. Aku hidup, maka aku tiada.

TULISAN INI BISA DIBAGIKAN MELALUI:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *