Aku Tidak Tahan Dimiskinkan; Kekuasaan Akan Kuledakkan! Selengkapnya »

"/> Aku Tidak Tahan Dimiskinkan; Kekuasaan Akan Kuledakkan! | Independent Movement

Aku Tidak Tahan Dimiskinkan; Kekuasaan Akan Kuledakkan!

“Menjadi sasaran utama pembatasan sosial (PSBK, PSBB, PPKM, atau apapun namanya), aku jadi mengerti: kemiskinan bukan lagi sebagai aib, hanya sangat tidak menyenangkan; sementara kekuasaan begitu menjanjikan kenikmatan, namun nikmatnya tidak boleh didapatkan orang miskin.” (Rakyat Miskin Mataram)

Panggil aku Rakyat Miskin Mataram, karena domisiliku di Kota Mataram dan statusku sebagai rakyat miskin. Kalian harus mengerti: nama ini tidak diberikan orangtuaku dengan menyembelih kambing, melainkan dicangkok kekuasaan menggunakan setumpuk kebijakan.

Dulu aku tidak semiskin sekarang: kekosongan isi dapur, kesulitan bayar tagihan air dan pulsa listrik, terancam diusir dari kontrakan, sukar biayai sekolah anak, dan diintai tukang tagih utang dari segala penjuru. Sebelum pembatasan sosial digencarkan, aku soalnya masih bisa mencari nafkah buat keluarga. Wabah corona bagiku memang mengancam nyawa, tapi tidak terlalu kupikirkan: karena yang paling berbahaya adalah kemiskinan.

Telah berpengalaman jadi Rakyat Miskin Mataram–yang telah mengharu-biru menghadapi kebijakan anti-rakyat miskin–membuat aku berpikiran: kemiskinan dan kesehatan merupakan dua tangkai yang sulit dipertemukan. Belajar dari kehidupan harian, aku beroleh kesimpulan: kemiskinan merupakan cacat bawaan dari kekuasaan yang gemar melakukan pembangunan dan investasi guna mengeruk keuntungan. Orientasinya pada keuntungan bahkan telah lama membuat akses rakyat miskin terhadap kesehatan jauh dari perhatian.

Kini dalam rongrongan pembatasan sosial berkepanjangan, kuyakin: posisiku bukan hanya miskin, tapi lebih-lebih telah dimiskinkan. Posisi ini persis dengan berjuta-juta rakyat miskin lain. Bahkan dengan tidak adanya jaminan kesehatan, maka daya hidup hidup kami rentan akan terkaman kematian. Di tengah wabah, kaum miskin kota (buruh, pedagang kecil, PKL, sopir, gojek online, pengamen, pemulung) mendapati posisinya begitu kontras dengan kawanan orang kaya (pemerintah, politisi, dan pengusaha).

Kami memang tidak punya data komplit tentang ketidakadilan. Hanya sejauh mata kami memandang menemukan kenyataan menyakitkan. Kami temukan aneka hal menggetirkan dengan mata telanjang. Kami menyebutnya sebagai fakta akan diskriminasi dan ketimpangan.

Diskriminasi terhadap orang miskin terhampar begitu rupa. Pasar-pasar tradisional dibatasi jam bukanya, bahkan ada yang ditutup paksa. Ina-ina penjual sayur, ikan, buah, dan jajan dipukul mundur ke rumahnya. Buruh-buruh gendong dan pertokoan ikut dirumahkan segera. Abang-abang bakso, mbak-mbak cilok, ina dan ama-ama penjajak aneka minuman segar dan hangat digulung begitu saja. Bahkan pemulung dan pengamen juga ikut dituduh dapat menyebarkan wabah. Sementara birokrat, politikus, dan pemodal bebas berkeliaran ke mana-mana: mulai dari keluar masuk kantor, hotel berbintang, restoran berkelas, hingga berlibur di tempat-tempat wisata. Tidak ada tentara, polisi, dan satpam yang berani membatasi aktivitas mereka. Aparat-aparat bertongkat, berbelati dan bersenapan soalnya ditugaskan untuk mengontrol kaum miskin kota.

Melalui pembatasan sosial yang dilegitimasi dengan aturan, maka diskriminasi sosial dilancarkan tanpa sungkan. Semua rakyat miskin kota menjadi sasaran utamanya. Keadaan inilah yang semakin melebarkan ketimpangan. Dalam masa-masa corona, kekayaan orang-orang kaya tidak pernah berkurang. Birokrat dan politikus tetap mendapat gaji tinggi dan anggaran kegiatan berlimpah. Sementara pemodal juga ikut memperoleh intensif usaha yang menggiurkan dari negara. Sedangkan rakyat miskin semakin dimiskinkan melalui beragam aturan naif mereka.

Sudah bertahap-tahap kami dipaksa tinggal di rumah tanpa jaminan kebutuhan pokok apalagi kesehatan dan pendidikan. Kekuasaan mengarantina kami karena alasan gila: berkeliarannya orang miskin dapat mendorong penyebaran wabah. Seolah kami spesies berbahaya yang menjadi inang dari corona. Sungguh berbeda dengan orang kaya: kalau ke mana-mana tidak bawa masalah, melainkan kabar gembira dan perintah-perintah berguna. Sementara kalau kami tidak taat perintah; kekuasaan kontan memburu kami dengan cacian, hinaan, bahkan todongan senjata. Beda lagi dengan orang kaya: meski tak taat aturan, tapi ke sana-ke mari justru diberitakan peduli, didongkrak citranya, bahkan dilindungi seabrek pengawal bersenjata.

Selama mewabahnya corona, aku memang lagi-lagi tidak mempunyai data tentang apa saja dan berapa banyak orang-orang miskin sepertiku yang hidupnya menderita. Aku soalnya bukan kelas penguasa yang mengukur kemiskinan dan kesengsaraan dengan angka-angka statistika. Aku cuma punya mata, hati, dan akal yang digunakan untuk menangkap semua peristiwa yang telah terjadi di sekitarku.

Di tengah derasnya ancaman kemiskinan dan intaian kematian; aku sudah tidak tahan dan merasa muak dengan keadaan: amarahku yang selama ini terpendam sudah membuncah terhadap kekuasaan. Aku ingin menentang kebijakan yang membuatku semakin miskin melarat. Aku tidak ingin mati kelaparan. Aku juga tak mau istri, anak-anak, ibu, bapak, dan seluruh keluarga serta sahabat-sahabatku terus berasa dalam kubangan mengerikan. Aku ingin mengajak mereka semua melawan. Aku mau bekerja lagi. Aku hendak mengenyahkan pembatasan ini. Kuakan menuntut hak-hak hidup, kesehatan, dan pendidikan orang-orang yang kusayang dipenuhi.

Sekarang aku tanyakan pada kaumku: sebagai sesama rakyat miskin di kota ini, tidakkah kalian punya perasaan dan harapan serupa? Sampai kapan kita menyaksikan diskriminasi dan ketimpangan yang menganga? Apa yang membuat kita menerima kedurjanaan penguasa? Mengapa kita tidak bangkit dan bergerak bersama untuk menentang kekuasaan? Bukankah sekaranglah saatnya jalan-jalan, pusat-pusat dan simbol-simbol kebesaran mereka diduduki, dilumpuhkan, bahkan diledakkan?

“Mereka akan melihat bahwa ada cara untuk tidak lapar. Dan dia yang jujur dan bodoh kemarin akan menjadi pemberontak pada esok hari. Prajurit yang baik tidak akan menunggu untuk dibebaskan dan untuk bebas…. Keberanian berpikir, dan bahkan lebih jauh dari itu, keberanian bertindak akan mengungkapkan kepada mereka kemuliaan hidup…. Inilah yang harus berani kita coba. Inilah keberanian yang ingin kita ajarkan kepada orang-orang malang yang terhambat oleh kelemahan mereka sendiri.” (Victor Bolshevik)

Mataram, 23 Juli 2021

Melawan untuk Bertahan Hidup,

Rakyat Miskin Mataram

(0)
Author: (0)

Aku berpikir, maka aku bergerilya. Aku memberontak, maka aku ada. Aku hidup, maka aku tiada.

TULISAN INI BISA DIBAGIKAN MELALUI:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *